Sebagai salah satu aktivitas pondok pesantren pada umumnya, diba’an atau sholawatan merupakan rutinitas yang sering dijalani oleh para santri untuk menyanjung sang pemimpin idaman, sang pengangkis dari jaman kegelapan menuju jaman yang penuh dengan terang menderang, yakni sanjungan yang pantas untuk baginda nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut seringkali dilengkapi dengan hadroh sebagai alat musik dan santri sendiri sebagai penerbangnya untuk menambah semangat dalam bersholawatan. Pondok Pesantren Al-Muhsin merupakan salah satu yang memakai hadroh sebagai pelengkap ketika diba’an atau sholawatan, karena selain mejadi semangat, hal tersebut juga menambah kreativitas para santri dalam mempelajari hadroh sebagai alat musik tradisonal namun mampu membangun kultur yang selama ini dijalani mayoritas kaum nahdiyin bersholawat menggunakan alat music berupa hadroh, walaupun tidak semua Pondok Pesantren menggunakannya. Terbukti santri Al-Muhsin memiliki rutinitas setiap minggu sore yang diisi dengan berlatih sholawat dan hadroh.
Untuk lebih menggali sejauh mana hasil dari rutinitas bersholawat memakai alat musik hadroh, Pondok Pesantren Al-Muhsin mencoba melebarkan sepak terjangnya dengan mengikuti perlombaan hadroh tingkat provensi D.I. Yogyakarta yang diselenggarakan oleh remaja masjid Pathok Negoro Plosokuning Yogyakarta pada tanggal 26-27 Desember 2014 dengan tema “Lomba Syi’iran Jawa”. Sebelumnya tim hadroh Al Muhsin sama sekali tidak pernah mengikuti perlombaan hadroh dan saat itu adalah yang pertama kalinya. Persiapan demi persiapan terus dilakukan oleh tim hadroh Al Muhsin demi kelancaran saat tampil di perlombaan nanti, berbagai rancangan kreatif dilakukan oleh tim hadroh Al Muhsin sebagai modal dalam bersaing dengan peserta-peserta lainnya. Tantangan terbesar saat itu adalah tim hadroh Al Muhsin harus menyesuaikan tema dari perlombaan tersebut yaitu membawakan syi’iran-syi’iran Jawa yang sebelumnya sangat jarang dilantunkan para santri Al Muhsin ketika Diba’an atau bersholawatan sehingga membuat tim hadroh Al Muhsin kesulitan beradaptasi dalam mengiringi dan melantunkan syi’ir-syi’ir Jawa. Namun dengan motivasi tinggi, tim hadroh Al Muhsin mencoba untuk tetap mengikuti perlombaan dan memutuskan terus berlatih sehingga saat penampilan nanti tidak mengecewakan orang-orang yang menyaksikan apalagi membawa nama Pondok Pesantren Al Muhsin kedalam perlombaan hadroh tingkat provinsi DIY.
Saat tiba waktunya, tim hadroh Al Muhsin mendapat kesempatan tampil dengan urutan ke enam pada malam yang kedua karena lomba itu sendiri diselenggarakan selama dua malam yaitu jum’at malam (malam sabtu) dan sabtu malam (malam minggu). Dengan persiapan yang cukup, tim hadroh al-muhsin akhirnya diberi kesempatan oleh panitia penyelenggara untuk menampilkan Performancenya Alhamdulillah penampilan dari tim hadroh Al Muhsin mendapat respon yang sangat baik dari para penonton yang hadir, karena tim hadroh Al Muhsin menampilkan suatu yang benar-benar beda dan terbilang unik. Saat peserta lain menampilkan konsep yang benar-benar sesui dengan alur syi’ir Jawa, tim hadroh Al Muhsin menampilkan syi’ir Jawa dengan kombinasi nada-nada modern yaitu genre hip-hop disela lirik syi’ir Jawa yang dibawakan, sampai-sampai ketika jeda sebelum pengumuman pemenang yang disempatkan oleh para juri berdiskusi untuk menentukan pemenangnya, tim hadroh Al Muhsin diberi kesempatan untuk tampil kembali dan berkolaborasi dengan peserta lain sehingga tim hadroh Al Muhsin lagi-lagi mampu menghipnotis penonton untuk bersorak sambil berjoget mengikuti musik yang dihasilkan dari pukulan rebana tim hadroh Al Muhsin. Namun sayangnya, walaupun mendapat respon yang cukup meriah dari para penonton, tim hadroh Al Muhsin belum mendapat kesempatan sebagai juara, mungkin para juri memiliki penilaian tersendiri yang pastinya sangat objektif dalam konsep yang di inginkan.
Bukan sebagai pemenang tentu tidak menyurutkan semangat tim hadroh Al Muhsin untuk tetap berkreasi dan terus mencoba lagi dan lagi dalam kompetisi hadroh lainnya. Karena sebelum memutuskan untuk mengikuti lomba, tim hadroh Al Muhsin memilki motivasi bukan untuk menjadi pemenang melainkan mendapatkan pengalaman. Walau sebuah pengalaman perdana namun tentunya akan mengambil pelajaran dari apa yang telah dijalani sebelumnya sehingga mampu menjadi lebih baik lagi kedepannya. Pesan penulis; tetap semangat dan teruslah berkreasi dalam mewujudkan mimpi! Sehingga hal yang dulunya kecil bisa menjadi besar, yang dulunya bukan apa-apa bisa menjadi karya positif dan yang terpenting, bermanfaat bagi banyak orang. Amin

27 Mei 2015
Juna El Hamidy

video saat penampilan