Pondok Pesantren Salafiyah Al Muhsin

Menu

Kyai Haji Abdullah

Kyai Haji Abdullah atau yang akrab dipanggil Mbah Abdullah lahir di Sleman, Yogyakarta pada tanggal 31 Desember 1915 di Sleman, Yogyakarta. Mbah Abdullah adalah anak dari Abu Muslim. Beliau dibesarkan pada masa penjajahan kolonial Belanda. Pada sekitar tahun 1940an, Mbah Abdullah ikut berjuang mengusir penjajah hingga beliau dinobatkan sebagai pejuang kemerdekaan. Mbah Abdullah merupakan salah satu murid dari Kyai Muhsin.

Ada suatu kisah tentang mbah Abdullah yang menarik, yaitu pertemuan rahasia di ploso kuning, berikut ini kisahnya:

Pada bulan November 1973, di malam selasa kliwon, Abdullah dibangunkan oleh sepenggal mimpi ganjil. Dalam mimpi itu ia ditemui K. Muhsin, memang empat tahun yang lalu, tepatnya tahun 1969 K. Muhsin telah wafat. Mimpi itu demikian jelas dan gambling bahwa Abdullah memdapat semacam wejangan dan wisik dari Kiyai Muhsin. Dalam mimpi itu Kiyai Muhsin berkata:

“wahai muridu, adakah kau mengerti apa sesungguhnya hakikat hidup di dunia? Dunia itu ibarat mimpi yang dibangun ari gundukan pasir di atas air, tak lebih dari benda-benda mati yang nyata sekaligu maya. Pada manusia yang lalai bakal terkutuk digandrung dan larut dalam gemerlap dunia. Cintailah dunia sebagaimana Allah mencintai suka-duka dan keluh kesah manusia. Karena itu, Allah merancang kekuatan dunia sebanding dengan kekuatan Iblis yang bersemayam pada tukang ramal, tulisan cakar anjing yang dirajah, kebohongan, puisi-puisi, pemain dadu, pasar, kamar mandi, arak dan kaum perepun. Wahai muridku, waspadalah terhadap semua perangkap yang menyesatkan itu, sebab iblis adalah cermin kesesatan dan kesalehan yang terkutuk seoanjang zaman. Maka dari itu, tepat pada besok malamsetelah pukul 12 malam, pergilah kau ke masjid patok nagari di ploso kuning, dan kau akan bertemu dengan seorang tua yang akan memberikanmu sesuatu yang berharga, camkan perintahku ini dan persiapkan dirimu sebaik mungkin!”

Sebagaimana cerita yang juga dikisahkan oleh beberapa murid sepuh kiyai Muhsin yang lain, maka pada hari berikutnya, Bbdulla berangkat dengan berjalan kaki dari nglaren ke plaso kuning, menembus kegelapan malam. Melintasi pepohonan dan semak belukar yang ketika itu masih rimbun dan lebat. Selag terus berjalan, ia merasakan hawa jahat di sekitarnya. Konon, daerah selatan ploso kuning itu dulu dikenal sebagai daerah wingit “alas manik setan geni”. Saat itu, ia merasakan ada semacam hawa sekawanan lelembut dan siluman yang bergerak dengan beringas hendak mencucupnya. Jika mereka mampu membunuh salah satu murid pilihan kyai muhsin ini, tentu hal itu meruakan suatu keistimewaan tersendiri. namun, semua bekakrakan itu dapat ia atasi dengan mudah, dan memeang sejak dari rumah, Abdullah sudah merapalkan doa “Nurbuat” sebanyak 100 kali dan ajian “Qulhu Susngsang” sebanyak 3 kali tanpa nafas. Dan semua mahluk itu terbakar dan lenyap.

Tanpa halangan yang berarti, sampailah Abdullah di depan pintu gerbang masjid Patok Nagari. Terasa udara malam kian menggigilakan tulang. Abdullah menghela nafas sebentar, lalu mendongakkan kepalanya ke langit. Tampak separuh bulan purnama bersinar dan awan merah kekuning-kuningan bergerak tenang menuju barat. Di matanya terlihat tajam kelebatan syair ganjil seperti ini :saat malam menggelincirkan cahaya matahari, sendiri, betapa abadi langit dan bumi, malaikat dan iblis saling bersambung api, terkutuk dalam kubur angan-angan Tuhan, sekarat dan telanjang, dan tubuh merka terbakar sebab anak cucu adam. Selang beberapa saat setelah lelehan syair laknat itu lenyap, tampaklah seorang tua berjanggut putih panjang sedang duduk sendirian. Jangan-jangan orang ini yang dimaksud guruku, batin Abdullah. Ia segera mendekati lelaki tua itu dengan sukma yang bergetar dan tubuh yang menahan gentar. Ia mengucakan salam dengan suara terpatah-patah. Orang tua itu hanya diam dan mengangguk saja seraya menghempaskan sorot mata yang aneh. Tampa basa basi orang tua itu membuka percakapan.

“ aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Setiap abdi Tuhan harus terus menerus mencari kebenaran tiap ihwal. Apakah kau tahu apa sebenarnya yang kau cari dalam hidupmu?”

Dengan sedikit tersekat kerongkongannya, Abdullah menjawab sekaligus bertanya sekenanya” Aku … aku tak tahu, dan ….siapa…siapa kau sebenarnya?”

Lelaki tua itu lantas menjawab” Akulah Iblis sang laknatullah. Aku adalah makhluk terusir yang bernasib malang, kendati dahulu aku pernah beribadah selama tujuh ratus ribu tahun. Abdullah lihatlah ke langit! Demi padang awan mendebu kencang dan 2 sungai kecil berwarna merah-hitam yang menderas kencang. Sungguh aku telah terjatuh dalam bencana teramat lama. Dosaku sudah tidak bias diampuni. Lihatlah kedua mataku bak langit yang terus mengucurkan darah! Kisah ini bukan tentang wajah secerah blan, namun ihwal kecerobohanku sendiri. Aku tak tahu, mengapa Tuhan tidak menimbang ibadahku yang lampau, hanya karena kesombonganku yang naif itu, bahkan Ia meletakan kesalahan di pundakku. Kepada siapa lagi musibah semacam ini akan menimpa? Kecuali padaku. Karena kutukan ini datang dari Tuhan, aku akan menerima dengan hati lapang, kendati manusia menganggapnya seperti kematian?”

Dengan tubuh membara, tiba-tiba Abdullah menimpali kata-kata Iblis itu dengan lantang “pertemuan seperti inikah yang dimaksid guruku? Semata aku hanyamenghormati guruku, dan tak sedikitpun aku berharap bertemu denganmu. Lantas apa yang kau kehendaki dariku, wahai Iblis?”

Lalu iblis menyergah, “goblok sekali kau, aku ini mau menegaskan permusuhan kita, dasar hamba dungu! Tapi saat ini, kau harus ketahui juga ya! Bahwa aku… aku… sesungguhnya juga berharap menjadi hamba baik di sisi Tuhan seperti kamu. Dan manusa adalah pesaing abadi yang hrus kumusnahkan. Wahai Abdullah, ketahuilah, kau tak memiliki hak apapun atas dunia. Dunia ini adalah milikku. Bakal banyak rintangan yang kau hadapi. Sekali kau terjerumus dalam jebakanku, maka derajatmu akan lebih rendah dariku.”

Itulah ucapan terakhir Iblis sebelum tubuhnya lenyap dilalap azan subuh. Abdullah masish tercenung bagai bongkahan arca di teras masjid itu. Ia merenungi kata demi kata yang diucapkan sang guru dan iblis bangsat itu. Ia terus mencoba memahami makna kejaian ini. Barangkali segala tindakan dan rencana Tuhan tidak patut dipertanyakan, batinnya. Beberapa saat kemudian ia dikagetkan oleh sapaan Mbah Baghawi, putra kawan seperjuangan Kiyai Muhsin yang tinggal tak jauh dari masjid itu. Keduanya lantas bersalaman. Untuk menutupi apa yang baru saja terjadi, Abdullah berdalih ia kangen untuk solat subuh di masjid patok negari ini, sebagai mana yang dahulu pernah ia lakuakn bersama kiyai muhsin dan murid-murid lainnya. Mbah Baghawi hanya mengangguk paham, dan ia tak merasa ada keganjilan sedikit pun. Kemudian mereka saling bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Setelah rampung solat subuh, Abdullah mampir sebentar ke rumah Kiyai Zamakhsyaari dan Mbah Baghawi. Dan… Tatkala matahari mulai naik, ia pamit pulang. Ini merupakan akhir dari cerita ini.

Mbah Abdullah mempersunting putri dari KH. Muhsin yang bernama Zumriyah. Beliau dianugerahi 6 orang anak, yaitu Mutasom, Munasor, K. Munahar (Pengasuh Pon-Pes Al Muhsin Putri), K. Nasrul Hadi (Pengasuh Pon-Pes Al Muhsin Putra), Ahmad, dan Mualim. Dua diataranya sudah wafat yaitu Munhar dan Munasor. Simbah Abdullah menunaikan ibadah haji pada tahun 1985 M. Pada tanggal 1 Mei 1993 beliau mendirikan Pondok Pesantren Salafiyyah yang diberi nama Al Muhsin. Pada tahun 2000 Mbah Abdullah sudah mulai tidak aktif mengajar mengaji, kondisi fisiknya yang melemah dan digantikan oleh putranya yang Kyai Nasrul Hadi.

Pada tahun 2004 Mbah Abdullah menderita penyakit gatal diseluruh tubuh dan harus dirawat pada seorang tabib yang bernama Pak Sabar di Purworejo, Jawa Tengah. Kondisi beliau semakin lemah, tergolek tak berdaya dengan tubuh kurus terbalut kulit hingga akhirnya beliau wafat pada tanggal 11 April 2004 sekitar pukul 12.00 WIB. Beliau dimakamkan di tempat pemakaman kampung Nglaren.

Mbah Abdullah merupakan sosok Kyai yang sangat bersahaja dan penuh keteladanan, salah satu keteladanan beliau yang harus dicontoh yaitu kesederhanaannya.

27 Mei 2015

Penulis M. purbo Jati

Categories:   Profil

Comments