Kipas yang satu ini sepertinya tidak akan ditemukan di pondok-pondok lain. Entah kapan tepatnya kipas ini sudah ada di pondok pesantren Al Muhsin, saat saya masuk pertama kali tahun 2009 kipas ini sudah ada, bahkan mungkin jauh di tahun-tahun sebelumnya pun sudah ada. Apa yang membuat kipas ini berbeda dengan kipas yang lainnya, secara fisik memang ini hanya kipas biasa dengan  adanya tambahan anak panah dan nama-nama para santri yang ditempel di sisi samping kipas ini secara melingkar. Secara fungsi sedikit berbeda dengan fungsi seperti kipas pada umumnya. Umumnya kipas berfungsi  hanya untuk mengalirkan udara agar terasa sejuk, akan tetapi kipas yang satu ini punya fungsi yang lain, yaitu absensi kehadiran santri. Fungsi inilah yang membedakannya dengan kipas-kipas pada umumnya.

Bagaimana kipas ini mengabsen santri? Penasaran kan. tanpa banyak basa basi langsung saja saya beri tahu cara kerjanya. saat kipas ini berotasi pada porosnya, anak panah akan terus berputar. Nah, di saat Abah Kyai selesai melakukan dzikir sehabis sholat fardhu kipas akan dimatikan, saat itulah anak panah berhenti dan menunjukkan nama santri yang ada di sisi samping kipas. Abah Kyai memanggil nama santri yang tertunjuk. Tatkala terdengar suara samar bismillahirohmanirohim, suara amin yang lantang mulai menggema, tanda santri tersebut hadir dalam jamaah dan mulai memimpin doa. Nah, apabila setelah nama dipanggil tidak ada respon, berarti santri tersebut tidak hadir dalam jamaah alias absen. Siap-siap saja santri yang bersangkutan dipangil Abah Kyai di lain kesempatan dan ditanyai kenapa tidak ikut jamaah, kalau alasannya tidak dapat diterima maka tazir ada didepan mata. Santri yang tidak hadir ketika ditunjuk oleh anak panah kipas, maka akan digantikan oleh nama santri diatas ataupun dibawahnya. Begitu seterusnya.

Kenapa kipas ini dijuluki kipas sakti, biasa lah orang jawa suka menggatuk-gatukan sesuatu. Akan tetapi memang benar-benar terjadi dan saya pun pernah mengalaminya. Ketika jama’ah sholat subuh, dalam hati jangan saya lagi yang memimpin do’a, ngantuk berat soalnya. Selain itu tugasnya pun double sehabis memimpin do’a dilanjutkan dengan memegang mic memimpin mujahadahan setiap selesai do’a di waktu subuh , jadi nggak bisa merem sejenak. Abah Kyai selesai berdzikir, sekilas lihat kipasnya namaku pun telah terlewati. aman. merem lagi deh. Hadiii, sontak aku kaget dan langsung memulai doa bismillahirohmanirohim…. Tuh kan bener, lagi pingin merem malah disuruh pimpin doa.

Lain halnya dengan teman saya, sebut saja Joko (nama samaran), setelah selesai ’asharan kondo ke saya, “Aku  rodo telat bali ne nonton bal-balan sek nang Maguwo“, “Mengko digoleki loh”, jawab ku. “karo sapa?”, tanyanya. “Kipas Sakti”, jawabku. “Alah peluange cilik 1 banding 40, pas isak wis bali aku, Abah Kyai yo ro bakal ngerti nek aku gek metu”, jawabnya. Aku pun sudah berusaha melarangnya untuk pergi, tetapi apa daya, dia tetap bersikukuh untuk pergi nonton, dan benar saja magrib ia belum pulang,  otomatis tidak ikut jamaah magrib. dan tanpa disangka namanya yang muncul. dalam hati aku berkata, “Isyak keno tazir kowe, Jok. wis tak kandani ra gugu”.

Ada lagi teman saya sebut saja Dije (nama samaran). suatu ketika mengobrol santai, Dije memulai pembicaraan, ” Nek aku pas metu, ra tau ki keno kipas sakti, hahaha”. Langsung aku jawab, “Nek cara ku sih, dirimu ki wis ra di reken Gusti Allah, dadi jenengmu ra tau metu, kabeh kedadian kan kersane Gusti Allah, termasuk jeneng metu saka kipas. Ndang tobat, nyuwun ngapuro ndepe-ndepe karo Gusti Allah, peringatan kuwi saka Gusti Allah. Maksiat kok di banggakno”. “Astagfirullah, iya ya, kudu taubatan nasuha ki, mulai saiki tak sregep ngaji ra metu-metu maneh!”

Begitulah cerita Si Kipas Sakti Pondok Pesantren Al Muhsin yang sepertinya hanya ada satu-satunya di dunia. Pesan dari saya, Ambilah yang positif buang yang negatif dari cerita diatas. Sekian

 

Sleman, 9 Desember 2015

Penulis Hadi Hudhori

Editor Syukron Ro’al Fadli