Selain keluargaku, tak ada yang tau jika aku adalah seorang anak dengan 2 ibu, yaitu ibu kandungku dan istri dari ayahku.Perkenalkan, namaku abdul. Aku adalah salah seorang mahasiswa saat tulisan ini dibuat, walaupun bukan mahasiswa yang teladan, sebisa mungkin ku patuhi segala keinginan ayahku, dari mulai harus begini sampai tidak boleh begitu. Walaupun tidak sejalan dengan keinginanku, yang kutahu orang tua tidak mungkin menjerumuskan anak-nya.

Awal mula kejadian, ku tak tahu pasti apa yang terjadi antara ayah dan ibu kandungku, sehingga mereka harus berpisah. Bukan-nya ku tak perhatian, tapi jarak memisahkan aku dan kedua orang tuaku. Ya, aku disekolahkan dan di titipkan pada seorang kyai, atau bahasa keren-nya mondok. Sejak smp sampai sma, aku bukan hanya ditempa pelajaran umum, akan tetapi menjelang sore tiba, aku harus siap2 memakai rok pria, atau biasa disebut sarung. Yang tadi-nya kitab putih pun berubah kusam menjadi kitab kuning setiap hari-nya.

Waktu berjalan seperti tak ada tanda-tanda ayah dan ibuku pernah bertengkar, jangankan bersikap kasar, membentak pun ayahku tak pernah. Tapi kenapa tiba-tiba ada surat yang berisi surat resmi yang ditandatangani hakim pengadilan agama menyatakan bahwa ibuku bukan lagi istri ayahku?, Disitu tertulis juga pembagian hak waris, tapi apakah aku harus peduli?, aku ini masih seorang anak kecil !!!, Anak yang tak tahu untuk apa sebidang tanah warisan, yang masih berfikir pendek untuk di tukar sebuah kendaraan yang tak sebanding. Jadi untuk apa kalian berpisah para orang tua?.

Kedua orang tuaku berpisah bukan-lah sebuah puncak yang menyayat hati, setelah mereka berpisah, bukan berarti anak-anak orang tua-ku berhenti menjadi korban, kami diberi racun kebencian dari kedua belah pihak, bahkan saudara-saudara orang tuaku mendukung kubu masing-masing saling menyalahkan kubu lawan dengan cerita versi mereka masing-masing yang sama sekali tidak dapat dijadikan sekenario sebuah film karena saking tidak nyambung-nya cerita kedua belah pihak.

Entah apa yang terjadi, ibuku terkadang bertingkah tidak wajar, beliau sering berbagi cerita bukan hanya kepada manusia, tetapi bercerita sendiri seolah ada pendengar setia-nya, menceritakan perjuangan-nya yang tersakiti dan terkhiyanati oleh ayahku, sampai dia terpaksa mencintai pemuda khayalan-nya karena saking trauma-nya. Karena keluarga tak mampu menangani, pengobatan demi pengobatan diusahakan keluarga untuk menyadarkan-nya, bahwa yang dia cintai bukan-lah jodoh-nya. Berbagai tempat, berbagai cara dan berbagai pengobatan diikhtiyarkan untuk kesembuhan-nya, tidak ada jaminan ibuku akan lebih baik dari sebelum-nya, kita hanyalah manusia yang hanya diperuntukan untuk berusaha, dan yang menjadi perantara kesembuhan hanyalah ciptaan allah, kecuali allah ikut campur di dalam-nya.

Saat ibuku sedang bersedih, ayahku mengabarkan kabar gembira kalau aku mempunyai ibu baru, atau harus kusebut istri dari ayahku. Dari wajah istri ayahku, aku berusaha percaya kalau ayahku bukanlah menikah lagi, akan tetapi berusaha menjadikan dia sebagai ibu keduaku. Wajah-nya tak bisa dibilang rupawan, badan-nya pun tidak ideal. Jika ayahku menikah lagi, tentu-nya ia akan memilih wanita yang subur. Tetapi ibu keduaku hanya bisa mempunyai momongan aku dan saudaraku karena dia mandul.

Walau terkadang berat bagiku hingga senyumku tak bisa menghalangi air mataku, aku terkadang berfikir bahwa aku tak tahu harus mengeluh apa, karena cobaan ini membuatku dewasa, membuatku lebih kuat, membuatku lebih bertanggung jawab dan mengerti bagaimana bersikap menjadi manusia. Mungkin jika aku seorang wanita, aku akan berteriak kepada semua orang bahwa aku menderita, jika aku dari kalangan yang tak tahu agama, mungkin aku sudah tak bisa disebut seorang manusia. Aku sudah diuntungkan di segala kondisi jika dibandingkan cobaan orang-orang terdahulu,sekarang aku masih mempunyai kedua orang tua yang masih menyayangiku, kedua keluarga besar yang mendukungku, masih diberi nikmat syukur oleh robbku. Jadi kalau dipikir, aku harus mengeluh apa?