Pondok Pesantren Salafiyah Al Muhsin

Menu

Shalawat Nariyah Santriwati Pon-Pes Al-Muhsin

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

21 April yang di Indonesia dikenal sebagai Hari Kartini menjadi hari penting dalam rangka mengingat jasa RA Kartini. Pada hari tersebut banyak hal yang dikaitkan dengan keputrian, berkaitan dengan hal tersebut penulis juga ingin sedikit menyinggung terkait santri putri Pon-Pes Salafiyah Al-Muhsin. Melihat judul diatas, begitu banyak makna yang ingin diungkapkan oleh penulis. Sekedar berbagi ilmu, pengetahuan, dan pembelajaran, mungkin bisa diambil hikmahnya oleh kang2 dan mba2 sebagai amalan tambahan yang pastinya akan bermanfaat. Lantas ada apa sebenarnya dengan santri putri Al-Muhsin??

Sholawat nariyah, saat ini untuk santriwati sendiri telah melakukan kegitaan tersebut secara rutin, yang dilakukan setiap malam jum’at setelah kegiatan sholawatan atau khitobahan selesai. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ibu Nyai, yang awal mulanya memang “dawuh” dari ibu. Karena menurut ibu, sholawat nariyah memang bagus walaupun banyak sholawat lain yang juga bagus apalagi jika dibaca malam jum’at dan tengah malam “semoga mendapat barokah jum’at” kata beliau.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang “Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, ditunaikan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurnah itu semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan Engkau, Ya Tuhan semesta alam”

 

Kita para santri diajarkan membaca sholawat nariyah itu sebanyak 4444x (kenapa 4444x? Nanti akan dijelaskan). Awalnya setiap santri dibagi/dihitung untuk dapat membaca beberapa bagian (bilangan) per-santri dengan menggunakan tasbih mereka masing-masing. Akan tetapi untuk yang selanjutnya, ibu menyiapkan batu sebanyak 444, setiap batu bernilai 10 sholawat. Setiap santri yang sudah membaca sholawat nariyah sebanyak 10x maka mengambil 1 buah batu dan begitu seterusnya hingga sebanyak 444 batu terambil semua. Dari situlah, tidak ditentukan lagi berapa banyaknya per santri membaca tetapi sampai batu yang ada habis dan ditambah 4 sholawat lagi untuk menjadikannya genap 4444x sholawat nariyah. Selama mambacanya kami dianjurkan untuk tidak membicarakan hal lain selain membaca sholawat tersebut, tidak lain tujuannya adalah dalam rangka meraih kekhusyuan dalam bermunajat kepada Allah.

 

Ibu memang tidak mewajibkan untuk para santriwati mengikuti kegiatan ini tetapi untuk mendapat manfaat dan syafa’atnya kita para santri mengikuti kegiatan ini dengan seksama tanpa ada yang ketinggalan/seluruh santri ikut serta dalam kegiatan ini (semoga bisa istiqomah). Biasanya setelah selesai membaca sholawat nariyah tersebut lalu ditutup dengan membaca semacam tahlil singkat. Kegiatan ini sudah berlangsung kurang lebih 1 bulan, dan selama 1 bulan tersebut, alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan rutin dan lancar. Satu kendala yang seringkali menyertai kami adalah rasa kantuk tiada tara, sehingga ada beberapa yang saking khusyuknya sampai tertidur. Terlepas dari hal tersebut inilah usaha kami dalam bersholawat kepada Nabiyulloh Muhammad SAW. Rasululloh SAW bersabda “perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam jum’at, barangsiapa yang bersholawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sanad hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.

 

Sholawat Nariyah sendiri adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.

 

Pada kisahnya, suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu. Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

 

Jadi nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bersholawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/sholawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW. Sholawat (bertawashul mareng kanjeng nabi) diawal do’a itu ibarat kunci yang akan membukakan pintu Arsy sehingga apa yang kita panjatkan dapat memasuki Arsy alhasil doa kita akan lebih terkabul.

 

Inilah riwayat singkat sholawat nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan sholawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan syekh nariyah. Begitupun dengan santriwati Al-Muhsin, dan memang ada baiknya sholawat ini dibaca 4444x karena syekh nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444x. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran syekh yang InsyaAllah juga mengharap karomah seperti Syekh Nariyah. Akan tetapi satu hal yang lebih utama adalah serahkan semuanya pada Allah SWT Sang Pemberi Karomah.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

Q_                                                                                                       Yogjakarta, 21 April 2016

 

 

 

Categories:   Umum, Uncategorized

Comments