Assalamu’alaikum teman sholeh dan belum sholehku, semoga kita tetap dalam pengampunan allah ya maha rahman dan rahim. Mungkin dari judul artikel ini terlihat ketidak adanya ilmu dan informasi yang terkandung, walau demikian saya berharap ada kemanfaatan didalam-nya, amiin.

Sesuai dengan judul-nya bahwa tanda seseorang adalah wali Allah itu tidak diketahui (oleh orang seperti kita), karena seorang waliyullah biasanya tidak berpenampilan seperti orang alim ataupun ahli ibadah, tidak tersohor seperti ulama’ dan “tidak bermasyarakat” seperti para kyai. Kenapa demikian?, Karena mereka takut meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Loh kok? Bukannya mereka waliyullah?, Dan waliyullah itu dijamin masuk surga? Tunggu tunggu tunggu, memang siapa yang menjamin?

Waliyullah takut meninggal dalam keadaan su’ul khotimah dikarenakan mereka yang sudah menyerahkan hati (cinta) mereka sepenuhnya kepada allah akan ternodai dengan pujian manusia yang membuat mereka lupa siapa mereka, dan berubah bersikap sombong dan beranggapan derajat mereka lebih tinggi dari manusia lain karena keistimewaan yang allah berikan kepada mereka.

Kisah kyai Barseso, seorang kyai, alim ulama’ yang tanda kewaliyannya bisa “menular” kepada santri-nya yang tidak kuat atas cobaan yang allah berikan dan berakhir dalam keadaan “sujud” kepada iblis, kisah seorang santri API tegalrejo yang dicabut ilmu kewaliyannya karena dapat mengetahui mana “orang masuk surga” dan “orang masuk neraka” lalu tidak pernah sowan pak kyai karena kyai-nya dalam pengelihatan-nya “orang masuk neraka” dan kyai tersebut ternyata adalah waliyullah yang dapat menyembunyikan tanda kewaliyannya, adalah beberapa cerita yang dapat kita ambil kesimpulan bahwa sifat kewaliyan seseorang seperti lalat yang menempel di dinding, ia dapat hinggap atau pergi sesuai dengan kehendak allah.

Kewaliyan seseorang dapat diketahui oleh wali lain seperti cerita tentang K.H Abdurrahman Wahid atau biasa kita ketahui dengan nama Gus Dur, saat beliau berhaji di arab mengajak K.H Said Aqil untuk memintakan doa kepada seorang yang ‘alim, K Said pun mengajak gus dur kepada seorang dengan jubah, jenggot panjang dan mempunyai banyak santri, tapi gus dur menjawab “bukan”, lalu mereka melanjutkan perjalanan bertemu shaikh terkenal,tapi gus dur menjawab “bukan”, sampai beberapa orang alimereka datangi tapi gus dur menjawab “bukan”, sampai K Said terheran-heran. Dan saat bertemu dengan orang berpakaian biasa (ada yang meriwayatkan pengemis) gus dur meminta doa kepada orang tersebut. Setelah mendoakan, waliyullah tersebut meninggalkan beliau-beliau sambil bersedih karena kewaliyannya diketahui orang lain.

Dari cerita diatas kita ketahui bahwa K.H Said Aqil adalah seorang ahli hadist, fiqih, ahli ibadah dan keturunan nabi (habib) tidak bisa mengetahui mana waliyullah, mana orang berpenampilan seperti walullah. Apalagi kita, ahli hadist bukan, ahli fiqih bukan, kok sering bicara bahwa “saya itu lebih baik dari dia”, mau ditaruh mana muka kita besok dihadapan Allah sang maha mengetahui? Belajarlah dari sosok Ustadz Jefri (almarhum) yang mencium tangan “orang yang lebih rendah” saat berjabat tangan, arti-nya kita yidak boleh merendahkan orang lain, baik dari segi ilmu ataupun derajat dhohir, karena bisa saja pemulung yang biasa mencari sesuatu di tempat sampah kita, tukang bakso langganan kita, orang gila di komplek atau kampung kita adalah waliyullah, jika kita belum dapat menghormati mereka dengan layak jangan merendahkan mereka.
Sekian artikel ini semoga dapat diambil hikmah-nya, maaf jika ada salah kata atau salah penulisan ataupun sumber valid yang tidak saya sebutkan, dan Terima Kasih 🙂

A6